JADI ORANG MISKIN ITU
NGGAK ENAK, KAWAN.....
Percayalah...
Saya sudah
merasakannya...jadi jangan mau jadi orang miskin
Akan aku ceritakan kisah nyata...
benar benar terjadi, kisah sepenggal perjalanan hidupku...
Aku lahir
dari keluarga yang menurutku cukup, tidak kekurangan dan tidak pula
berlebihan. Bapak adalah seorang pegawai negeri, seorang guru, juga
seorang petani. Sawah bapak cukup banyak dan luas, jadi dapat
penghasilan dari bertani juga, baik yang digarap sendiri maupun yang
digarap oleh orang lain dalam bentuk bagi hasil. Juga bapak peternak
ayam petelur dan pedaging yang hasilnya cukup lumayan karena jumlah
ayam bapak bisa sampai 200-300 ekor setiap musim.
Bapak mendidik aku dengan disipllin,
aku harus punya segala kemampuan berternak, bertani, sekaligus
sekolah harus baik... pokoknya makin terampil di banyak bidang makin
baik kata bapak. Waktu SD, pagi jam 5 atau setengah enam setelah
bangun tidur dan sholat subuh, sudah ada sederet urutan pekerjaan
mulai mengumpulkan tempat minum ayam yang jumlahnya bisa sampai
ratusan biji, mencuci, mengembalikan ke tempat semula, mengoplos
vitamin di minuman ayam, terakhir menuangkan ke dalam ratusan wadah
wadah tadi. Selesai jam 6.30 mandi, lalu berangkat sekolah jalan
kaki. Begitu seterusnya setiap dua hari sekali karena bergantian
tugas dengak kakak laki laki saya mas Iqbal.
Sepulang sekolah urutan pekerjaan lain
sudah menunggu, membeli bahan makan ayam 3 hari sekali dengan sepeda
ontel ke kampung sebelah yang jaraknya sekita 2 kilo meter dengan
berat yang seringkali melebihi berat badanku sendiri, kemudian
mengoplos dengan bahan lain untuk 3 hari kedepan.
Dengan punya 3 sumber penghasilan tadi,
keluarga kami tidak pernah kekurangan, rumah cukup besar, sepeda
motor, bahkan saya masih ingat kami dulu adalah keluarga yang punya
pesawat televisi pertama di kampung kami.
Ketika SMA aku pakai sepeda motor untuk
ke sekolah sehari hari, waktu itu masih jarang orang sekampung yang
punya motor.
Ketika lulus SMA aku pengin tantangan
baru, pengin melakukan hal tak lazim pada remaja seusiaku. Aku bilang
ke bapak, “Pak aku pengin kuliah di jogja, tolong dibiayai
pendaftarannya dan biaya spp satu semester saja, kost satu semester
saja, selebih nanti biar aku cari sendiri aku pengin mandiri”. Hal
ini terinspirasi dari buku-buku yang sering aku baca kalo di luar
negeri remaja yang sudah berumur 18 tahun harus hidup berpisah dengan
orang tua dan hidup mandiri.
Belasan tahun berikutnya aku baru tau
kalo Bob Sadino juga melakukan hal yang sama, bosan menjadi orang
kecukupan memilih hidup dalam kemiskinan...Istilah pak Bob
MEMISKINKAN DIRI....silahkan baca bukunya yang berjudul : Mereka
bilang aku gila
Singkat cerita, setelah diterima di
AKAKOM Jogja, mulailah hidup sebagai anak kos dengan target semester
depan sudah nggak dapat kiriman bulanan, bayar kos, makan, kuliah,
buku, dan lain lain cari sendiri... terserah mau tetap hidup atau
jadi kere kelaparan
di pinggir jalan. Mulailah aku mencoba bisnis ini, bisnis itu, jualan
mlm, jadi loper koran, jadi seles dari rumah ke rumah, jadi kuli
bangunan, apa saja pokoknya harus menghasilkan uang.
Pada
tahap ini tantangan yang terberat adalah melawan
gengsi. Waktu
jadi loper koran dari rumah kerumah yang paling takut adalah ketemu
temen kuliah, atau temen sekolah... takut diomongin begini “ooo
kamu jauh jauh pergi dari rumah cuma jai loper koran....? atau kami
sekolah tinggi tinggi cuma jadi kuli bangunan di jogja? lebih takut
jadi omongan dikampung, dijogja bukan kuliah malah jualan koran ”
pokoknya gengsi. Waktu jualan kue kue jajanan warung juga sama...
takut ketemu orang yang kenal.
Pengalaman jadi loper koran, bangun pagi sebelum subuh sekitar jam 4
pakai sepeda ontel biar hemat, ambil dari agen , kemudian keliling
dari rumah ke rumah komplek ke komplek sekitar 50 pelanggan, jam 7
sudah harus beres karena kalo kesiangan pelanggannya bisa marah. Jam
8 an mulai keliling lagi untuk pengantaran korang nasional yang
datangnya lebih siang sampai jam 10 an. Begitu seterusnya setiap
pagi. Yang paling menyebalkan kalo ada yang berlangganan koran Jawa
Pos kenapa karena koran ini satu satunya koran yang nggak libur
meskipun tanggal merah.... bahkan lebaran pun hanya libur dua hari
saja... bayangkan dalam setahun hanya libur 2 hari.... sungguh
menyebalkan.
Waktu berlalu berbulan bulan hingga bertahun tahun selanjutnya,
segala macam usaha dicoba, jualan ini itu nggak berhasil, kerja sana
sini dicoba, nggak ada satupun yang berhasil, barang barang yang
dibawa dari kampung satu persatu mulai dijual buat makan dan ongkos,
puncaknya sepeda motor pemberian bapak digadaikan buat makan.
Rumah kos yang ditempati terasa mahal, nggak kuat lagi bayar, jadi
cari rumah kost yang lebih murah. Jadi selama 5 tahun di jogja
seingatku sekitar 8 kali pindah rumah kos dari yang murah sampai
paling murah. Terakhir karena yang paling murah pun nggak kebayar,
terpaksa numpang di garasi bis kota punya bapaknya teman, gratis
tentu saja tapi sebagai gantinya dua hari sekali harus nyapu halaman
yang yang mungkin luasnya seperempat lapangan bola, menjaga mobil
mobil yang disimpan disitu dan lain lain.
Garasi ini punya bos bis kota jogja namanya pak sudirman. Orangnya
tinggi kurus, tegas tapi baik hati. Ia seorang tokoh Muhamadiyah di
Jogja yang sangat dihormati. Garasi ini ditanami berbagai tanaman
buah, pohon belimbing yang sangat tinggi, pisang, umbi dan singkong.
Di garasi gratis ini aku ketemu Syihabudin teman sma yang juga kuliah
di Jogja tapi beda kampus. Kondisi kami sama sama miskin. Aku ajak
sekalian tinggal disini, mumpung gratis. Ia soulmed bagiku sejak sma.
Kalo pengin merokok waktu itu (sekarang aku sudah berhenti merokok)
kami patungan masing masing 500 perak dapat sebatang diisep berdua.
Waktu menjelang lebaran terpikir ide bikin kue kering, berbekal oven
pinjaman dari ibu dikampung, mulai bikin satu dua loyang, ternyata
laku. Tapi modal terbatas, jadi nggak bisa bikin banyak.
Usaha jalan seadanya, untuk menghemat pengeluaran kami beli beras
masak nasi, lauk dan sayurnya beli, itupun kalo ada uang kalo nggak
ada ya makan sama daun singkong yang tumbuh di halaman garasi ini.
Dalam kesulitan dan kemiskinan ini aku menemukan teknologi memasak
nasi pakai seterika listrik. Jadi panci alumunium diisi beras yang
sudah dicuci, ditambah air, taruh diatas seterika yang dibalik (atas
bagian panasnya menghadap keatas) tunggu barang 1 jam nasi sudah
matang. Nggak perlu takut gosong karena seterika punya otomatis mati.
Di garasi ini aku juga jadi jago masak sampai sekarang isteri, anak
anak dan pembantu dirumah mengakui masakanku enak. Daun singkong,
daun melinjo, melinjo muda, jantung pisang itu dan itu saja setiap
hari... namanya juga hidup harus hemat.
Waktu
berlalu dan aku tetap miskin, miskin semiskin miskinnya.... numpang
dirumah orang, makan daun daunan setiap hari kayak kambing, pulang
kampung bukan pilihan. Layar sudah dibentang, janji sudah diucap
untuk nggak minta lagi kepada orang tua, lebih baik kelaparan atau
jadi kere atau
jadi gelandangan di jogja daripada pulang terhina karena menelan
ludah sendiri.
Lokasi
garasi tempatku numpang di kawasan kos mahasiswa STIKER jl parang
tritis. Waktu itu usiaku 20 tahunan, pasti tertarik dengan urusan
cinta cintaan, ada gadis yang kos di sebelah rumah sungguh menawan
hati. Aku kenal dengan bapak dan kosnya, mulailah pasang mode naksir
dengan nitip salam, setiap hari ke bapak kos, ibu kos atau siapa
saja.... tapi sungguh malang diri ini cintaku ditolak mentah mentah
karena aku miskin.... aku cuma tukang bikin roti, yang kerjanya pagi
sampai siang bikin roti, sorenya keliling dari warung ke warung
menjajakan dagangan. Ia anak orang berada, keluarganya datang dengan
mobil cukup mewah pada waktu itu tahun 96-97. beberapa waktu kemudian
ia punya pacar lelaki bermobil entah teman kuliahnya entah siapa.
Pengalaman ditolak mentah mentah ini rupanya bukan yang terakhir kali, ada pengalaman serupa beberapa waktu kemudian, alasannya sama karena aku miskin....
Miskin tetap miskin... miskin akut...Sampai puncaknya suatu ketika
aku jatuh sakit, sakit yang nggak biasa, biasanya sakit demam panas
makan panadol dua tiga hari sembuh. Ini sakit luar biasa, sakit di
kepala menjalar ke punggung sampai pinggang, panas pegal ngilu, luar
bisa sakiktnya. Mau ke dokter atau puskemas boro boro buat makan saja
nggak ada ya sudah makan panadol saja sehari 3 kali. Begitu makan
obat, reaksi terasa, sakitnya sedikit hilag untuk waktu dua tiga jam
sudah itu kambuh lagi. Makan obat lagi, begitu berulang ulang berhari
hari.
Sampai hari ke 7 sudah nggak kuat akhirnya aku menyerah terpaksa
pulang kampung, minta uang ke ibu secukupnya buat berobat ke
puskemas terdekat di kampung.
Di puskesmas diperiksan oleh ibu dokter cantik yang ternyata kenal
dengan bapak . Selesai diperiksa, dokter cantik tadi mengatakan
sesuatu yang sangat mengejutkan, sungguh nggak terduga sama sekali,
ia bicara dengan lirih hampir seperti berbisik mungkin takut
menyinggung perasaan “mas... anda ini sakit penyebabnya adalah
KURANG GIZI.....”
Aku terdiam tak percaya... kata kata KURANG GIZI sungguh menyengat
pendengaran, hati dan perasaanku... aku tau penyebab semua ini adalah
MAKHLUK BERNAMA KEMISKINAN.
Aku nggak terima, aku protes sekuatnya dalam hati, aku ini manusia
lebih dari normal nyatanya bisa lulus sekolah sampai SMA diterima di
sekolah tinggi komputer swasta. Tapi tidak berdaya melawan satu
makhluk bernama MISKIN tadi sehingga aku harus menghadapi kenyataan
ditolak mentah mentah oleh gadis yang aku taksir, hidupku kurang gizi
karena nggak mampu makan makanan berkualitas, hanya makan daun daunan
kayak kambing, tinggal numpang dirumah orang atas dasar belas
kasihan. sungguh menyakitkan hati... nggak bisa dipercaya... nggak
bisa diterima....
Kawan... inilah titik terendah dalam hidupku... nasehat dari orang
bijak; jika anda mengalami masalah pilihannya ada 2 yaitu terhina
atau tertantang. Aku pilih tertantang, kondisi ini memberikan energi
yang luar biasa, sampai hari ini aku begitu membenci kemiskinan. Aku
bekerja begitu keras, aku belajar begitu keras supaya nggak miskin
lagi. Aku meyakini... sungguh meyakini bahwa kemiskinan bukan perkara
nasib, tapi perkara cara berpikir dan bertindak.
AKU BERSUMPAH NGGAK AKAN JADI ORANG MISKIN AKU PASTI JADI ORANG KAYA.
Aku nggak rela anak isteriku nantinya mengalami kurang gizi, kurang
makan dihina dina orang karena miskin. Akan aku lakukan apapun dalam
arti positif untuk menjadi kaya dan sangat kaya. Aku juga akan
mengajari orang lain menjadi kaya.
Menjadi kaya adalah perintah
Allah, mau bukti? Ini buktinya surah Al Mauun ayat 1-3 : 1. Tahukah
kamu para pendusta agama? 2. Yaitu orang yang menghardik anak yatim
(dalam terjemahan lain menghardik diterjamahkan tidak mengasihi atau
tidak menyantuni) 3. Tidak memberi makan kepada orang miskin.... kalo
penghasilan kita hanya 1 juta per bulan dan punya anak istri, sungguh
sulit mengerjakan perintah di 2 ayat terakhir tadi tapi kalo
penghasilan kita 100 juta per bulan rasanya nggak sulit untuk
menyantuni dengan layak 10 anak yatim dan orang miskin dengan layak.
Saya tahu di dunia ini ada orang yang sangat kaya penghasilan per
tahun bisa 300 milyar dan ia orang yang sangat dermawan, Ia memberi
makan sekitar 3 juta orang miskin setiap tahun.... sayanya orang ini
bukan muslim.
Nasib berjalan seiring perjalanan waktu, kini aku belajar kepada top
top guru di indonesia dan di dunia untuk menjadi kaya. Aku belajar
kepada Robert Kiyosaki, T Harv eker, Bob proctor, Anthony Robbins,
Dolf De Roos dan masih banyak lagi. Dari Indonesia aku belajar dari
guru guru pengusaha seperti Purdi E Chandra pemilik PRIMAGAMA yang
sudah punya lebih 1000 cabang, belajar kepada kepada Tung desem
Waringin, belajar kepada Pak Kuwat Subarja pemilik ICHI BENTO yang
sudah punya lebih dari 50 cabang dan masih banyak lagi guru yang
lainnya.
Syihabudin
yang dulu sama sama miskin tinggal di garasi bersamaku itu kini sudah
sangat kaya, salah saru orang terkaya di jogja dengan bendera PT.
Gerbang Madani membangun komplek perumahan mewah di jogja dan
sekitarnya. Silahkan klik di www.gerbangmadani.com
, kadang aku datang ke dia, belajar ke dia. Yang sangat berkesan dari
Syihabudin ini adalah seorang yang sangat dermawan.
Jadi kawan, seperti judul tulisan ini JANGAN MAU JADI ORANG MISKIN...
JADILAH ORANG KAYA, JADI ORANG MISKIN ITU SUNGGUH TIDAK ENAK AKU
SUDAH PERNAH MERASAKANNYA. Salam kaya dan salam merdeka.